-Dia bersandar di tepi dinding
Kering sudah badannya.
Laksana Buddha nan berpuasa
Cuma dia bukan Sang Buddha.
-Dia menghisap rokok sebatang
Puntungnya sudah tinggal pangkalnya
Asapnya mengaburkan udara
Berselerak puntung di lantai merata.
-Dia ketawa berjela-jela
Asap tersenyum padanya
Rokoknya mendengar segala cerita
Dinding berbicara padanya.
-"Siapa engkau wahai pemuda?"
"Aku hanya seorang celaka."
Dia menjawab tanpa berasa
Sebarang erti nan sia-sia.
-"Bisakah dikau mendengar cuma,
di saat aku sudah kecewa,
usaha segala sia-sia,
Wahai Dinding Peratapan hamba?"
-Bagaimanakan dinding akan bisa
Menjawab segala persoalannya?
Jelas dia bakal celaka
Dan dia mengenang masa silamnya.
No comments:
Post a Comment