Sunday, August 8, 2010

Detik-detik Matinya Seorang Celaka 4

-Dia terkenang akan sebuah puisi.
Puisi yang pernah didendangkan dahulu.

-Puisi beringin tua nan sepi.
Beringin yang tumbang bukan kerana layu.

-Beringin tua nan terbuang
Dimusuhi rancangan bernama Pembangunan.

-Dia teringat bait puisinya.
Lalu merasa hina dirinya.

-Hina dirinya tak bisa menukar,
Hina dirinya tak mampu membongkar,
Hina dirinya tak pernah menyelar,
Hina dirinya tak akan menggugar.
Lalu hatinya menjadi gusar,
Tanggungjawabnya bakal diujar,
Di satu padang bernama Mahsyar,
Di mana pendosa bakal terbiar.

-"Celakalah diriku wahai Dinding Peratapan!"

-Lalu dia menyanyi lagi,
Bait-bait puisi yang fani.

-"Selamat tinggal angin, selamat tinggal bulan,
Selamat tinggal, kupu-kupu sayang."

No comments:

Post a Comment